Jakarta - Jaringan listrik nasional Kuba kembali kolaps secara total, yang memicu pemadaman listrik massal (blackout) di seluruh negeri dan merundung jutaan warga dalam kegelapan. Insiden yang terjadi pada Minggu (2/8/2026) malam menjelang pukul 23.00 waktu setempat ini menandai kegagalan sistem energi nasional yang keenam kalinya sepanjang tahun 2026.
Lumpuhnya pasokan daya membuat aktivitas rumah tangga, dunia usaha, dan layanan publik di negara berpenduduk sekitar 10 juta jiwa tersebut lumpuh total di tengah cuaca panas ekstrem.
Warga Ibu Kota Havana berbondong-bondong tidur di sepanjang pembatas beton pantai Malecón demi mencari angin laut akibat suhu dalam rumah yang sangat panas tanpa kipas angin atau AC. Warga cemas persediaan makanan beku di lemari pendingin membusuk karena pemadaman listrik berkepanjangan.
Transportasi umum di Havana terganggu akibat kelangkaan bahan bakar, sementara rumah sakit terpaksa mengandalkan panel surya darurat untuk menjaga operasional vital.
Di beberapa wilayah yang paling terdampak, masyarakat meluapkan frustrasi dengan membakar tumpukan sampah dan memukul-mukul panci (cacerolazo).
Krisis energi parah ini diperparah oleh kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang memblokir pasokan minyak impor ke Kuba sejak Januari lalu. Blokade minyak dari sekutu utama Kuba seperti Venezuela dan Meksiko membuat pembangkit listrik mereka kehabisan bahan bakar.
Selain kelangkaan BBM, armada pembangkit listrik termal Kuba rata-rata sudah berusia di atas 30 tahun. Infrastruktur uzur ini terus mengalami kerusakan berulang karena tidak memiliki suku cadang pengganti akibat rentetan sanksi ekonomi.

Memuat komentar...