JAKARTA, r3nmedia.com - Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengungkapkan bahwa sedikitnya 144 pengungsi dan migran tewas atau dinyatakan hilang di lepas pantai Mauritania saat mencoba menempuh rute laut berbahaya menuju Eropa. Tragedi kemanusiaan ini terungkap setelah sebuah perahu kayu yang membawa para migran asal wilayah Afrika Sub-Sahara ditemukan terdampar setelah kehabisan bahan bakar dan terombang-ambing selama 25 hari di Samudra Atlantik.
Juru Bicara UNHCR, Matt Saltmarsh, mengonfirmasi bahwa perahu maut tersebut awalnya bertolak dari wilayah Bafuloto, Gambia, dengan mengangkut sekitar 160 orang penumpang menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Namun di tengah pelayaran sejauh lebih dari 2.000 kilometer tersebut, perahu kehabisan bahan bakar hingga akhirnya hanyut tak tentu arah di koridor laut lepas sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh otoritas Penjaga Pantai Mauritania.
Saat kapal ditarik ke pelabuhan Nouadhibou, Mauritania, tim kemanusiaan hanya menemukan 38 orang penyintas yang selamat bersama tumpukan jenazah korban yang meninggal akibat kelaparan dan dehidrasi selama terdampar. Di antara para korban selamat, terdapat dua anak kecil yang dilaporkan kehilangan seluruh anggota keluarga mereka dalam pelayaran maut tersebut dan kini tengah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Pihak UNHCR menegaskan bahwa jalur migrasi laut dari daratan Afrika Barat menuju Kepulauan Canary Spanyol merupakan salah satu koridor perjalanan paling mematikan di dunia. Risiko kematian yang sangat tinggi dipicu oleh penggunaan kapal kayu yang tidak layak layar dan terlalu padat muatan, kondisi arus laut Atlantik yang tidak dapat diprediksi, serta minimnya akses penyelamatan darurat yang cepat di laut lepas.
Sepanjang pertengahan Juli ini, otoritas Mauritania sebenarnya telah melakukan tiga kali operasi penyelamatan darurat terpisah di laut dan berhasil membawa 387 orang dengan selamat ke daratan. Namun, insiden karamnya kapal asal Gambia ini menjadi tamparan keras bahwa penurunan jumlah total penyeberangan tidak serta-merta membuat jalur pelayaran tersebut menjadi lebih aman bagi para pencari suaka.
Berdasarkan data statistik resmi PBB, tren kedatangan migran internasional lewat jalur laut ke Eropa pada paruh pertama tahun ini sebenarnya mencatat penurunan yang cukup signifikan. Secara total, jumlah imigran yang tiba di Eropa melalui jalur laut utama berada di angka 40.000 orang, turun drastis dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 65.407 orang. Khusus untuk Kepulauan Canary Spanyol, angka kedatangan tercatat menyusut hingga 61 persen.
Kendati arus kedatangan melandai akibat pengetatan penjagaan perbatasan yang didukung Uni Eropa, UNHCR memperingatkan bahwa tingkat kematian dan hilangnya kapal migran di laut tetap berada pada "level yang mengkhawatirkan" tanpa sorotan publik yang besar. PBB mendesak negara-negara dunia untuk segera memperluas akses jalur hukum yang aman lewat peningkatan kuota pemukiman kembali (resettlement), penyediaan lapangan kerja resmi, serta jalur pendidikan alternatif agar para pengungsi tidak lagi bertaruh nyawa di lautan.
Memuat komentar...