Jakarta β€” Tren memelihara semut eksotis dalam miniatur ekosistem kaca (terarium) sedang booming pesat di Eropa, khususnya di kalangan anak muda. Namun, lonjakan popularitas hobi ini memicu peringatan keras dari para ahli biologi karena maraknya penyelundupan ilegal dan ancaman nyata terhadap kerusakan ekosistem di dua benua sekaligus.

Bisnis serangga mikro ini kian diminati karena menawarkan keuntungan finansial yang sangat besar namun dengan risiko hukum yang jauh lebih rendah dibanding perdagangan narkoba.

Perdagangan ilegal ini sebagian besar menyasar spesies eksotis seperti Semut Pemanen Raksasa (Messor cephalotes) dari sabana Afrika, di mana satu ratu semut bisa dihargai hingga 200 Euro (sekitar Rp3,5 juta) di pasar gelap Eropa. Penyelundupan massal ini merusak ekosistem lokal.

Penyelundup menggali tanah untuk mengincar ratu muda yang baru siap terbang, sehingga memutus proses pembentukan koloni baru sejak awal. Hilangnya populasi semut di Afrika mengganggu penyebaran benih rumput yang sangat vital bagi proses pemulihan vegetasi padang sabana.

Bahaya tidak berhenti di negara asal. Ketika semut eksotis ini lepas ke alam liar Eropa, mereka berpotensi menjadi spesies invasif yang destruktif akibat perubahan iklim yang membuat suhu Eropa semakin menghangat.

Koloni besar Semut Kelenjar Besar dari Afrika Utara dilaporkan bersarang di dalam gardu listrik di Jerman selatan, memicu gangguan masif pada jaringan listrik dan internet. Spesies asing yang sangat agresif, seperti Semut Api Merah yang mulai menetap di Italia, memangsa invertebrata asli dan memutus rantai makanan lokal.

Merespons krisis ini, lembaga konservasi internasional seperti Center for Biological Diversity mendesak badan dunia CITES untuk segera memperketat regulasi hukum dan memasukkan perdagangan semut ke dalam pengawasan satwa liar internasional guna mencegah kerusakan biosfer yang lebih masif.