YAHUKIMO, r3nmedia.com - Krisis kemanusiaan di pedalaman Papua Pegunungan dilaporkan makin memburuk menyusul penghentian operasional sebagian besar layanan penerbangan perintis di Kabupaten Yahukimo. Dampak nyata dari terhentinya urat nadi transportasi udara ini memicu jatuhnya korban jiwa warga sipil akibat gagalnya evakuasi medis darurat (medical evacuation) dari distrik-distrik terpencil menuju rumah sakit rujukan.
Krisis ini mencuat setelah seorang ibu hamil bernama Enina meninggal dunia di pedalaman Yahukimo karena tidak mendapatkan penanganan medis lanjutan. Dalam kondisi kritis, Enina terjebak di kampungnya tanpa akses evakuasi karena tidak ada satupun pesawat perintis sipil yang beroperasi. Keluarga korban mengungkapkan bahwa jalur udara menggunakan pesawat kecil atau helikopter merupakan satu-satunya cara menyelamatkan pasien keluar dari wilayah berlereng ekstrem tersebut.
Pihak keluarga kini mendesak pemerintah agar segera memulihkan layanan penerbangan demi mencegah hilangnya nyawa pasien darurat lain. Selain itu, mereka meminta pengadaan sistem komunikasi darurat yang menjangkau kampung-kampung terpencil agar permohonan bantuan medis bisa direspons cepat.
Berhentinya penerbangan di wilayah ini dipicu oleh faktor keamanan menyusul insiden penembakan dan pembakaran pesawat milik PT Associated Mission Aviation (AMA) berregistrasi PK-RCY oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada 2 Juli 2026 lalu. Insiden tragis di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham tersebut menewaskan pilot asal Amerika Serikat, Capt. Nicholas Francis Gosselin.
Sebagai bentuk duka cita mendalam dan respons jaminan keamanan, Kementerian Perhubungan menghentikan sementara rute perintis ke wilayah Wamena dan Dekai. Manajemen PT AMA juga sempat membekukan operasionalnya demi mengevaluasi keselamatan kru dan pesawat di rute-rute rawan konflik.
Sejumlah pihak dari Komisi XIII DPR RI mengingatkan bahwa gangguan pada penerbangan sipil memicu efek domino yang fatal bagi ketahanan masyarakat pedalaman. Ketika armada udara berhenti beroperasi, masyarakat tidak hanya kehilangan akses pengobatan darurat, tetapi juga menghadapi ancaman kelangkaan pasokan bahan pokok dan terhambatnya distribusi obat-obatan medis di puskesmas-puskesmas pembantu.
Pemerintah serta jajaran TNI-Polri didesak segera mempertebal pengamanan di setiap lapter perintis. Upaya ini krusial dilakukan demi memberikan jaminan keselamatan bagi maskapai sipil kemanusiaan agar mau kembali menerbangkan armadanya ke pedalaman Papua.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/07/03/d02b490a-1941-4f5f-b300-fb95e71afbaa.jpeg)

Memuat komentar...