JAKARTA, r3nmedia.com - Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif demi mengamankan stabilitas sektor keuangan domestik. Bank sentral Indonesia tersebut resmi menggelontorkan injeksi likuiditas sebesar Rp 837,11 triliun ke dalam sistem perbankan nasional guna meredakan tensi tinggi yang sempat melanda pasar uang.

Guyuran dana segar berskala masif ini didistribusikan melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Bank sentral memaksimalkan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), termasuk melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) serta operasi moneter ekspansif demi memastikan ketersediaan dana di pasar antarbank tetap melimpah.

Sponsored Deal

"Injeksi likuiditas perbankan dari Bank Indonesia mencapai Rp 837,11 triliun, yang kemudian mendukung kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit," ungkap Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Gedung BI, Jakarta Pusat.

Langkah ini diambil setelah pasar uang domestik sempat mengalami tekanan volatilitas akibat dinamika pengetatan likuiditas global. Dengan adanya guyuran dana jumbo ini, BI memastikan perbankan memiliki bantalan modal yang sangat kuat untuk terus menggerakkan roda perekonomian tanpa perlu khawatir akan risiko seretnya pendanaan.

Efek positif dari kebijakan ini pun langsung terasa di pasar keuangan. Berkat pasokan likuiditas yang melimpah, suku bunga pasar uang antarbank berhasil dijaga tetap rendah dan stabil, yang pada gilirannya mendorong perbankan nasional untuk terus memperluas penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

BI menegaskan akan terus memantau perkembangan volatilitas pasar keuangan global maupun domestik dari waktu ke waktu. Bank sentral siap meramu bauran kebijakan moneter lanjutan demi memastikan inflasi tetap terkendali dan nilai tukar rupiah tetap bergerak stabil di tengah tantangan ekonomi makro yang dinamis.