JAKARTA, r3nmedia.com – Pasar keuangan dan komoditas global diguncang kepanikan massal setelah eskalasi konflik bersenjata di Selat Hormuz memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dunia. Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang diikuti aksi saling serang dan penerapan kembali blokade maritim kini mengancam jalur distribusi energi paling vital di dunia, membawa harga minyak ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Hingga pertengahan Juli 2026, minyak mentah Brent telah melesat ke kisaran US$ 84 hingga US$ 85 per barel, mencatat kenaikan mingguan beruntun mencapai 10% hingga 13%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut terkerek hingga menyentuh level US$ 80 – US$ 81 per barel. Para analis komoditas menyebut pasar saat ini sedang memperhitungkan premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) yang sangat besar akibat ketidakpastian pasokan global.

Kepanikan investor kian memuncak menyusul kekhawatiran bahwa Teheran akan menekan kelompok sekutunya untuk mengganggu jalur pelayaran alternatif di Laut Merah (Selat Bab al-Mandab). Jika kedua urat nadi maritim tersebut lumpuh bersamaan, pasokan minyak dunia dipastikan akan tersendat secara masif di tengah kondisi cadangan strategis global yang sudah menipis.

Bagi negara importir minyak netral seperti Indonesia, lonjakan ini menjadi alarm keras. Kenaikan harga minyak mentah yang bertahan lama di atas asumsi makro berisiko memicu pembengkakan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah akibat melonjaknya biaya impor energi.