JAKARTA, r3nmedia.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda terjun bebas hingga menembus level psikologis baru di angka Rp18.109 per USD. Kejatuhan yang cukup tajam ini dipicu oleh kombinasi dua sentimen negatif sekaligus dari dalam dan luar negeri.

Dari sisi domestik, maraknya isu korupsi di dalam negeri sukses meruntuhkan kepercayaan para investor. Sementara dari sisi global, eskalasi konflik geopolitik dunia yang kian memanas memicu aksi pemburuan aset aman (safe haven). Sentimen ganda tersebut membuat aliran modal asing (capital outflow) keluar secara masif dari pasar keuangan Indonesia. Menurut data pasar spot pada Selasa pagi, rupiah langsung dibuka melemah di zona merah dan terus tertekan hingga terpaksa tunduk di hadapan keperkasaan dolar AS.

Analis pasar uang menyebut situasi ini sebagai badai sempurna bagi kurs domestik. Kasus korupsi kakap membuat investor asing memilih untuk menarik dana mereka dengan cepat ke negara asal (flight to quality). Di saat yang bersamaan, memanasnya perang di tingkat global membuat indeks dolar AS terus meroket tajam.

Masyarakat dan pelaku usaha kini diimbau untuk mewaspadai dampak domino dari pelemahan ini, mulai dari melonjaknya biaya impor bahan baku industri hingga potensi kenaikan harga barang elektronik, pangan, dan BBM. Selain itu, beban utang luar negeri dalam denominasi valas otomatis ikut membengkak. Bank Indonesia diharapkan segera melakukan intervensi tiga lapis di pasar spot demi menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak merosot lebih dalam.