JAKARTA, r3nmedia.com - Pasar aset kripto rontok berjamaah seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan anjlok signifikan hingga berada di bawah level psikologis USD 62.000 akibat kepanikan investor.

Mengutip data pasar, Selasa (14/7/2026), mata uang kripto dengan kapitalisasi terbesar itu merosot hingga 2,75 persen ke level USD 61.972. Aksi jual massal dipicu oleh pecahnya perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuat pelaku pasar global buru-buru mengamankan modal mereka.

Sponsored Deal

Konflik militer yang kian membara membuat sentimen risk-off mendominasi pasar global. Investor kini cenderung menghindari aset-aset investasi yang dinilai berisiko tinggi dan bergejolak seperti kripto dan saham.

Sebaliknya, likuiditas global dilaporkan mengalir deras ke instrumen aset aman (safe haven) tradisional. Komoditas emas dan indeks Dolar AS (DXY) melesat tajam karena diburu oleh para pelaku pasar untuk melindungi nilai aset mereka dari risiko perang.

Kejatuhan Bitcoin langsung menyeret pasar mata uang kripto alternatif (altcoins) ke zona merah. Mayoritas koin digital utama lainnya mencatatkan koreksi yang jauh lebih dalam, menyebabkan kapitalisasi pasar kripto global menyusut miliaran dolar AS hanya dalam hitungan jam.

Selain sentimen perang, tekanan di pasar kripto juga diperparah oleh ancaman inflasi baru akibat lonjakan harga minyak dunia. Investor khawatir bank sentral AS, The Fed, akan menahan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam dampak kenaikan harga energi global.