JAKARTA, r3nmedia.com — Tekanan berat masih menyelimuti industri penerbangan komersial domestik. Guna mempertahankan keberlanjutan bisnis di tengah fluktuasi biaya operasional, sedikitnya tujuh maskapai nasional dilaporkan mulai melakukan penyesuaian tarif serta merestrukturisasi jaringan penerbangan dengan memangkas rute-rute yang dinilai kurang produktif.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengungkapkan, meski harga avtur berangsur melandai pada awal bulan ini ke level Rp19.190 per liter di Bandara Soekarno-Hatta, maskapai penerbangan masih harus memulihkan kerugian akibat hantaman lonjakan harga avtur yang sempat meroket hingga 72% pada periode kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut diperparah oleh berakhirnya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sejak 5 Juli 2026, sehingga beban PPN 11% kini kembali ditanggung sepenuhnya oleh konsumen dan mendongkrak harga akhir tiket.
Strategi pemangkasan rute diambil maskapai untuk meminimalkan beban bakar komoditas angkutan jet. Beberapa rute internasional dan domestik sekunder yang memiliki keterisian penumpang (load factor) rendah mulai ditutup atau dikurangi frekuensinya.
Sebagai contoh nyata, manajemen AirAsia secara resmi menutup layanan penerbangan langsung rute Jakarta-Singapura. Penutupan rute ini menyusul langkah efisiensi armada agar dapat dialokasikan pada koridor penerbangan lain yang memiliki margin keuntungan lebih stabil dan tingkat permintaan tinggi.
Kementerian Perhubungan sendiri bertindak cepat demi menjaga keseimbangan industri dengan mengeluarkan regulasi tarif tambahan baru. Otoritas menurunkan batas maksimal biaya tambahan penerbangan (fuel surcharge) kelas ekonomi menjadi sebesar 40% dari Tarif Batas Atas (TBA) dari yang sebelumnya sempat menyentuh angka 50%.
Langkah penyesuaian fuel surcharge ini diadopsi secara bervariasi oleh ketujuh maskapai nasional—mulai dari Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Batik Air, Super Air Jet, Sriwijaya Air, hingga AirAsia—guna menyesuaikan harga jual tiket pada rute-rute gemuk seperti Jakarta-Bali, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Surabaya agar operasional penerbangan tidak terus merugi.

Memuat komentar...