Jakarta - Harga emas global dilaporkan tertahan dan bergerak stagnan di kisaran US$ 4.000 per troy ons. Berhentinya reli logam mulia ini terjadi setelah pelaku pasar mencium adanya sinyal kebangkitan inflasi yang berpotensi memicu kebijakan moneter ketat.

Berdasarkan data perdagangan komoditas pasar spot, harga emas (XAU/USD) berada di level US$ 4.036 - US$ 4.051 per troy ons. Angka ini mencerminkan fase konsolidasi yang ketat setelah emas sempat mencetak rekor tertinggi beberapa waktu lalu.

"Pasar saat ini sedang terjebak dalam rentang konsolidasi akibat naiknya imbal hasil obligasi AS (US Treasury Yield) ke level tertinggi," tulis laporan analis pasar komoditas, dikutip Selasa (4/8/2026).

Fase stagnasi harga emas di zona US$ 4.000 ini didorong oleh beberapa sentimen utama:

  • Ancaman Inflasi Baru: Rilis data manufaktur global (S&P Global Manufacturing PMI) dan indeks harga berbayar (ISM Manufacturing Prices Paid) melonjak melampaui prediksi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga konsumen kembali memanas.
  • Suku Bunga 'Higher for Longer': Menyusul kekhawatiran inflasi, pelaku pasar berspekulasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menunda pemangkasan suku bunga, atau bahkan kembali agresif menaikkan suku bunga.
  • Imbal Hasil Obligasi Melonjak: Tingkat imbal hasil obligasi AS tenor jangka panjang yang kokoh di atas 5% membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) menjadi berkurang.
  • Aksi Ambil Untung: Investor institusi dinilai mulai melakukan profit taking massal setelah emas bertahan lama di area psikologis US$ 4.000.

Meskipun harga emas dunia bergerak mendatar dengan kecenderungan tertekan, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di dalam negeri justru terpantau kokoh di level tinggi.

Dilansir dari situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram dipatok sebesar Rp 2.610.000. Sementara itu, harga jual kembali atau buyback emas Antam berada di level Rp 2.379.000 per gram.

Kekokohan harga emas domestik ini dipicu oleh tingginya permintaan pasar lokal yang memanfaatkan emas sebagai pelindung nilai (safe haven) terhadap ketidakpastian ekonomi domestik.