Jakarta - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) membawa kabar gembira bagi arah perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian tensi geopolitik global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi memaparkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan tahan banting, dibuktikan oleh geliat aktivitas industri riil yang bangkit serta terkendalinya stabilitas harga pangan domestik.

"Daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga kita tetap terjaga dengan sangat baik berkat peran APBN sebagai peredam kejut (shock absorber)," ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK III di Jakarta.

Sinyal kebangkitan ekonomi riil ini tercermin secara jelas dari rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dikeluarkan oleh S&P Global. Setelah sempat terjerembap ke zona kontraksi pada bulan sebelumnya, indeks manufaktur nasional melompat signifikan ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026.

Angka di atas ambang batas 50 ini menandakan bahwa pabrik-pabrik di dalam negeri sudah kembali memasuki fase ekspansi. Sektor industri dilaporkan mulai kebanjiran pesanan baru domestik yang memicu peningkatan volume output serta mendorong perusahaan untuk merekrut tenaga kerja baru demi mengejar target operasional.

Kabar baik tidak berhenti di sektor industri manufaktur saja. Dari sisi pengendalian harga barang, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa indeks harga konsumen di dalam negeri bergerak semakin jinak. Pada periode Juli yang dirilis awal Agustus, Indonesia mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,14% (month-to-month).

Adanya deflasi bulanan ini secara otomatis menyeret tingkat inflasi tahunan (year-on-year) melandai ke level 2,88%, turun drastis dari capaian bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 3,34%. Melimpahnya pasokan pangan hortikultura akibat panen raya di berbagai sentra produksi menjadi faktor utama penjinak harga komoditas volatile food di pasar riil.