Nganjuk โ Para petani tembakau di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terpaksa menerapkan sistem bergiliran dan berbagi air sumur bor demi menyelamatkan lahan pertanian mereka dari ancaman gagal panen akibat fenomena kemarau panjang. Solidaritas antarpetani ini menjadi kunci utama pertahanan di tengah menipisnya debit sumber air bawah tanah dan mengeringnya saluran irigasi permukaan.
Langkah darurat ini diambil demi memastikan tanaman emas hijau yang baru berumur satu hingga dua bulan tetap mendapatkan pasokan cairan yang cukup.
Mekanisme Pompa Bersama di Lapangan
- Pemanfaatan Sumur Bor: Petani memanfaatkan jaringan sumur bor dalam (deep well) yang ditenagai oleh mesin pompa disel atau listrik komunal.
- Sistem Jadwal Gilir: Pengairan lahan diatur ketat berdasarkan kesepakatan kelompok tani, misalnya dibagi dalam shift pagi, sore, dan malam hari.
- Pembatasan Durasi: Setiap pemilik petak sawah dibatasi hanya boleh menyedot air selama 2 hingga 3 jam per hari agar sumur tidak mengalami kekosongan debit.
- Iuran Operasional: Biaya pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk mesin pompa ditanggung bersama secara proporsional sesuai luas lahan.
"Kalau tidak saling berbagi dan mau menang sendiri, tanaman tembakau di satu kawasan ini bisa mati semua. Debit air sumur sekarang sudah jauh menurun dibandingkan awal musim lalu, jadi kami harus hemat dan adil," kata Supardi (52), salah satu petani tembakau setempat.
Meskipun tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) dikenal sebagai komoditas yang relatif tahan terhadap cuaca panas dan tidak membutuhkan air sebanyak tanaman padi, fase awal pertumbuhan tetap memerlukan kelembapan tanah yang stabil.
Selain mengatur jadwal gilir pompa, para petani di Nganjuk juga menyiasati penguapan air yang tinggi dengan melakukan penyiraman pada malam hari atau subuh. Langkah ini dinilai lebih efektif karena air tidak langsung menguap oleh terik matahari, sehingga struktur tanah di sekitar perakaran tembakau tetap terjaga optimal.

Memuat komentar...