Jakarta - Sejumlah wilayah di Pulau Jawa belakangan ini mengalami penurunan suhu udara yang cukup drastis pada malam hingga pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kondisi ini merupakan fenomena alamiah yang dikenal dengan istilah suhu 'bediding'.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG menjelaskan bahwa fenomena bediding biasa terjadi saat wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, berada dalam periode puncak musim kemarau. Kondisi ini dipicu oleh pergerakan massa udara dingin dan kering dari benua Australia atau Monsun Australia yang bergerak menuju Asia melewati wilayah Indonesia.
Dari seluruh wilayah di Pulau Jawa, Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah tercatat sebagai juara terdingin. Berdasarkan data stasiun pengamatan cuaca setempat, suhu udara di kawasan wisata Dieng sempat anjlok hingga menyentuh angka 0,7 derajat Celsius, yang memicu kembalinya fenomena embun racun atau embun upas (kristal es) di sekitar kompleks candi.
"Data BMKG 10 tahun terakhir mencatat penurunan suhu mulai terasa di bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Juli sampai Agustus. Sebagai contoh, Kabupaten Malang, suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat Celsius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat," demikian kata BMKG, dikutip dari Instagram resminya, Senin (27/7/2026).
"Hal ini juga menunjukkan peran topografi dan elevasi dataran tinggi dalam mengunci hawa dingin," lanjut BMKG.
Selain Dieng, penurunan suhu signifikan juga dirasakan di beberapa kawasan pegunungan lain di Pulau Jawa. Kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur tercatat mengalami penurunan suhu ekstrem hingga mencapai 3,9 derajat Celsius pada dini hari.
BMKG menambahkan bahwa minimnya tutupan awan pada malam hari di musim kemarau membuat energi panas bumi terlepas ke atmosfer secara maksimal tanpa ada penghalang. Hal inilah yang menyebabkan permukaan bumi menjadi sangat dingin menjelang fajar, terutama di wilayah-wilayah berdatangan tinggi.

Memuat komentar...