Angka elektabilitas Prabowo Subianto justru melandai di tiga bulan pertama pemerintahannya. Beda cerita dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi) yang malah menanjak di periode serupa.

Survei terbaru menunjukkan dukungan publik ke Prabowo turun 5-7 persen sejak pelantikan. Padahal, SBY di awal 2004-2009 naik 8 persen, Jokowi di 2014-2019 naik 6 persen. Kenapa Prabowo beda?

Alasannya bukan tunggal. Tapi faktor dominan adalah ekspektasi tinggi yang gagal dipenuhi. Banyak harapan pada Prabowo sebagai pemimpin yang tegas, tapi realitas kebijakan awal dinilai lambat. Kenaikan harga kebutuhan pokok jadi pukulan pertama.

Ditambah, gaya komunikasi Prabowo yang cenderung tertutup kontras dengan SBY yang santun dan Jokowi yang blusukan. Masyarakat butuh sentuhan langsung. Tanpa blusukan dan dialog terbuka, jarak dengan rakyat melebar.

Hasil survei dari beberapa lembaga kredibel (tanpa menyebut nama) menunjukkan penurunan paling tajam di kalangan pemilih muda. Generasi Z yang dulu antusias, kini mulai ragu. Mereka melihat janji lapangan kerja belum terwujud, program makan gratis masih simpang siur.

Sponsored Deal

Tapi jangan salah. Prabowo masih punya modal besar. Popularitasnya masih tinggi, dukungan partai solid. Hanya saja, tren awal ini jadi sinyal bahwa publik tidak lagi sabar. Mereka butuh gerak cepat, bukan sekadar orasi.

SBY dan Jokowi punya keberuntungan: awal masa jabatan mereka diiringi momen ekonomi yang lebih stabil. Prabowo justru harus menghadapi tekanan global, inflasi, dan ketidakpastian pasca pemilu. Itu semua tidak bisa diabaikan.

Akankah Prabowo bisa membalikkan tren? Atau ini bakal jadi pola baru? Yang jelas, 100 hari pertama bukan cuma seremoni—ini tolak ukur pertama yang menentukan nasib lima tahun ke depan.