BEIJING, r3nmedia.com - Presiden China Xi Jinping secara resmi mengumumkan strategi ekonomi baru yang super agresif dengan menyuntikkan modal negara secara masif ke sektor kecerdasan buatan (AI), robotika, dan manufaktur pintar. Langkah berani ini diambil demi mengamankan dominasi ekonomi masa depan Negeri Tirai Bambu di kancah global.

Cetak biru teknologi teranyar yang masuk dalam Rencana Lima Tahun ke-15 ini menargetkan AI tidak lagi sekadar menjadi asisten digital biasa, melainkan menjadi tulang punggung yang menggerakkan 90% aktivitas ekonomi nasional China pada tahun 2030.

Sponsored Deal

Untuk memuluskan ambisi raksasa tersebut, Beijing tak main-main dengan menggelontorkan dana investasi infrastruktur fantastis mencapai USD 295 miliar atau setara dengan Rp 5.293 triliun (asumsi kurs Rp 17.942/USD). Dana jumbo ini dialokasikan khusus untuk membangun jaringan pusat data dan komputasi AI nasional yang mandiri tanpa ketergantungan dari Barat.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 3 poin krusial dalam mega-investasi teknologi China:

  • Suntikan Robot Humanoid Massal: Fokus industri China kini bergeser dari otomasi pabrik tradisional ke pengembangan robot cerdas berbasis Embodied AI. Pemerintah menargetkan produksi massal robot mirip manusia (humanoid) untuk langsung diterjunkan ke berbagai sektor kerja domestik.
  • Kemandirian Rantai Pasok Cip: China menargetkan operasional penuh jaringan komputasi AI nasional. Untuk memutus ketergantungan dari teknologi luar, proyek infrastruktur supermasif ini diwajibkan menggunakan lebih dari 80% cip AI dan server buatan dalam negeri, seperti pasokan dari raksasa teknologi lokal Huawei.
  • Gempur Pasar Lewat AI Open Source: Berbeda dengan korporasi Amerika Serikat yang cenderung menutup rapat dan mengomersialkan model AI mereka (closed-source), China memilih membuka akses model AI domestik secara luas. Strategi ini sengaja dilakukan agar para startup, kampus, dan industri manufaktur lokal dapat mengadopsi serta memodifikasi AI dengan biaya yang jauh lebih murah.

Langkah "taruhan besar" modal negara ini digadang-gadang akan mengubah peta persaingan teknologi dunia dan memperketat perang dingin teknologi antara Beijing dan Washington.