JAKARTA, r3nmedia.com - Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali pecah pada Kamis (9/7/2026) setelah gencatan senjata yang baru berumur beberapa minggu resmi runtuh. Ketegangan ini memuncak menyusul pernyataan mendadak Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT NATO yang menegaskan bahwa Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) damai kedua negara telah berakhir.
Hanya dalam hitungan jam setelah pengumuman tersebut, situasi di kawasan Timur Tengah langsung mencekam akibat aksi saling serang berskala besar yang melibatkan pemboman wilayah pesisir Iran oleh militer AS dan serangan balasan rudal Teheran ke pangkalan militer AS di Teluk Persia.
Duduk perkara pemicu konflik ini sebenarnya berawal dari insiden awal Juli 2026, ketika terjadi aksi sabotase terhadap tiga kapal komersial—termasuk kapal tanker Ever Lovely dan Kiku—saat melintasi Selat Hormuz. Washington langsung menuduh Iran berada di balik aksi tersebut demi memaksakan aturan sepihak di jalur pelayaran internasional.
Merespons insiden itu, AS bergerak cepat membatalkan izin penjualan minyak sementara serta mengaktifkan kembali sanksi ekonomi penuh. Meskipun Teheran membantah keras tuduhan sabotase itu, ketegangan terlanjur memuncak dan membatalkan kesepakatan damai (MoU Islamabad) yang sebenarnya baru saja diteken kedua negara pada Juni 2026 lalu.
Memasuki pertengahan minggu ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) atas perintah langsung Presiden Trump langsung meluncurkan operasi udara masif yang menggempur sekitar 90 target di sepanjang garis pantai Iran. Wilayah yang dihantam bom mencakup kota pelabuhan strategis seperti Bandar Abbas, Bushehr yang merupakan lokasi reaktor nuklir sipil, Pulau Qeshm, hingga Chabahar, serta infrastruktur jembatan kereta api di wilayah Aqqala, Iran utara.
Tidak tinggal diam, beberapa jam setelah serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran langsung membalas gempuran tersebut dengan meluncurkan rentetan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer utama milik AS di negara tetangga, seperti Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Pelabuhan Salman (Bahrain) serta Camp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Runtuhnya gencatan senjata di urat nadi energi dunia ini langsung menghantam perekonomian global pada perdagangan Kamis (9/7) ini, mengingat Selat Hormuz melayani hampir 20% pasokan minyak bumi dan Gas Alam Cair (LNG) dunia.
Dunia internasional pun langsung bereaksi keras melihat eskalasi militer yang sangat cepat ini, di mana Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam perang terbuka tersebut karena mengancam perdamaian dunia secara serius dan mendesak semua pihak menghormati jalur navigasi internasional.
Sementara negara mediator seperti Pakistan dan Uni Eropa terus menyerukan sepanjang hari ini agar kedua pihak menahan diri, Teheran justru menyatakan enggan kembali ke meja perundingan karena menilai pihak Washington telah berulang kali melanggar janji kesepakatan.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pasukan-Iran-menembakkan-rudal-dalam-latihan-militer-di-Pantai-Makran-Teluk-Oman-2022.jpg)
Memuat komentar...