Jakarta โ Langkah agresif Wuling Motors dalam meluncurkan produk terbarunya, Wuling Aira ev, di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 sukses memicu diskusi hangat di jagat otomotif nasional. Bagaimana tidak, kendaraan listrik perkotaan yang kini mengusung format praktis 4 pintu tersebut dibanderol dengan harga yang dicap "di luar nalar", yakni mulai dari Rp 155.000.000 (Standard Range) dan Rp 175.000.000 (Long Range).
Banderol tersebut sontak memicu pertanyaan besar: apakah strategi harga murah ini justru akan mematikan pasar Wuling Air ev yang saat ini harganya berada di rentang Rp 214 juta hingga Rp 307 juta?
Marketing Director Wuling Motors, Ricky Christian, dalam sesi konferensi pers di ICE BSD City menjelaskan bahwa pemangkasan biaya produksi secara masif ini berhasil terwujud berkat penggunaan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berspesifikasi MAGIC Battery Pro yang kini dirakit sepenuhnya secara lokal di pabrik Cikarang.
Lokalisasi komponen baterai inilah yang membuat Wuling mampu menyajikan alternatif EV berdimensi lebih luas (panjang 3.268 mm) dengan harga setara mobil Low Cost Green Car (LCGC) konvensional.
Menanggapi isu kanibalisme pasar, manajemen Wuling menegaskan bahwa Wuling Aira ev diposisikan bukan sebagai pengganti Air ev, melainkan opsi pelengkap untuk memperluas jangkauan konsumen. Dari aspek kelengkapan, Air ev diposisikan bagi konsumen yang memprioritaskan fitur teknologi gantung digital yang jauh lebih mewah dan modern (high-end experience).
Sebaliknya, Aira ev berfokus pada kebutuhan fungsionalitas harian keluarga baru dengan akses pintu penumpang baris kedua yang jauh lebih praktis dan ramah kantong.

Memuat komentar...