Seratus dua puluh siswa. Empat belas medali emas. Dua puluh penghargaan khusus. Itu semua diraih dalam waktu kurang dari setahun.
Sekolah Rakyat namanya. Sebuah sekolah yang didirikan di pinggiran kota, dengan konsep belajar campuran antara kurikulum nasional dan pelatihan teknologi. Nggak butuh waktu lama buat mereka untuk unjuk gigi.
Dari kompetisi robotik tingkat provinsi, siswa kelas 5 SD bernama Dani dan timnya berhasil menyabet juara satu. Robot mereka bisa mendeteksi sampah plastik dan memilahnya secara otomatis. "Kami pakai sensor murah, belajar dari YouTube, sama dipandu guru," cerita Dani sambil memegang trofi.
Tapi prestasi bukan cuma di robotik. Ada juga lomba coding antar sekolah yang diikuti 30 siswa Sekolah Rakyat. Hasilnya? 18 di antaranya masuk final, dan 6 jadi juara. Keren banget.
Gimana caranya sekolah yang baru setahun berjalan bisa sehebat ini? Ternyata kuncinya ada pada pendekatan belajar yang nggak kaku. Setiap pagi, anak-anak belajar teori selama dua jam. Sisanya? Praktek langsung. Mereka diajari bikin aplikasi, ngerakit drone, sampai belajar desain grafis. Semua pakai perangkat yang disumbang atau hasil patungan orang tua.
Makanya banyak yang heran waktu pertama kali dengar kabar ini. Sekolah yang bangunannya masih pakai bekas gudang, tapi bisa bersaing dengan sekolah swasta elite. Bahkan, beberapa perusahaan startup mulai melirik lulusan SD-SMP mereka.
"Kami nggak punya proyektor canggih, tapi kami punya semangat gotong royong," ujar Pak Budi, kepala sekolah sekaligus guru fisika. "Anak-anak dikasih akses ke gadget bekas, lalu mereka belajar otodidak. Hasilnya di luar dugaan."
Sekolah Rakyat memang dirancang untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Biaya sekolah gratis, tapi syaratnya setiap siswa harus punya minat kuat di bidang teknologi. Belajar jadi seru karena mereka nggak cuma duduk dengerin ceramah.
Gubernur setempat pun ikut bangga. Dalam sambutannya di acara puncak perayaan satu tahun, dia bilang akan mengalokasikan dana untuk membangun laboratorium komputer baru. "Ini bukti bahwa pendidikan inklusif bisa melahirkan juara," katanya.
Rencana ke depan? Sekolah mau buka kelas untuk anak SMP. Juga mau mengadakan lomba robotik tingkat nasional yang dikelola sendiri. Semua persiapan udah mulai jalan.
Jadi, apa yang bikin Sekolah Rakyat beda? Bukan cuma gadget atau teknologinya. Tapi kepercayaan yang diberikan pada anak-anak. Mereka dianggap mampu, dan mereka membuktikannya.

Memuat komentar...