Onic Esports, yang dijuluki Tim Landak Kuning, baru saja melewati musim terberat mereka. Pendukung setia ONIC Fans pasti merasakan perbedaan. Dulu lincah, tajam, dan predator. Sekarang? Seringkali tumpul, ragu-ragu, dan mudah dipatahkan.
Angka tidak berbohong. ONIC finis di posisi 4 besar, jauh di bawah ambisi juara. Kemenangan menjadi barang langka. Tim yang dulu dianggap kandidat kuat juara dunia kini gontai. Apa yang sebenarnya terjadi?
Eksperimen roster menjadi kambing hitam utama. Perubahan pemain bukan hanya soal skill. Ini soal kimia. Saat chemistry hancur, permainan tim berantakan. Mereka kehilangan sinergi yang dikuasai begitu rapat.
Tapi ada faktor lain yang lebih pahit. Stagnasi strategi. Lawan sudah belajar membaca gerakan mereka. Tim-tim lain memahami pola draft, gaya rotating, dan titik lemah ONIC. Mereka tidak lagi menjadi monster yang tak tertebak.
Saat meta permainan bergeser, ONIC terlihat lambat adaptasi. Tidak seperti EVOS atau RRQ yang bisa cepat menyesuaikan hero dan komposisi. ONIC terpaku pada formula lama yang sudah kedaluwarsa.
Kekalahan dari Geek Fam di Lower Bracket menjadi titik nadir. Bukan karena kalah, tapi cara kalahnya. Mereka tidak menunjukkan perlawanan sengit. Mereka menyerah sebelum pertandingan usai. Mental yang rusak.
Apakah ini akhir dari kejayaan ONIC? Belum tentu. Mereka punya bakat mentah yang luar biasa. Tapi butuh evaluasi brutal. Butuh perubahan fundamental, bukan hanya tambal sulam.
Kembalinya sang legenda CW atau kejutan dari pelatih baru mungkin bisa jadi katalisator. Atau mungkin mereka harus merombak total struktur pelatihan. Yang jelas, duri yang hilang harus tumbuh lagi.
Pertanyaannya: seberapa cepat ONIC bisa bangkit, atau apakah mereka akan menjadi sejarah yang terlupakan?
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/07/31/c155380879a96f9947828c3da3668727-WhatsApp_Image_2026_07_31_at_03.53.56.jpeg)
Memuat komentar...