Lo bisa bayangin nggak, ada ratusan pucuk senjata api disimpan rapi di ruang kerja ketua yayasan sebuah sekolah swasta di Jakarta Selatan? Nggak sampai sepekan lalu, polisi menggerebek lokasi dan mendapati pemandangan yang bikin merinding. Bukan satu dua, totalnya lebih dari 150 pucuk—entah pistol, revolver, sampai senapan panjang.

Penggeledahan dilakukan pada Rabu malam setelah polisi mendapat laporan soal aktivitas mencurigakan di lingkungan sekolah. Tim gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres Jaksel langsung bergerak. Begitu pintu ruangan dibuka, barang bukti berserakan di sudut ruangan. Karung plastik hitam dan kotak styrofoam besar jadi tempat persembunyiannya.

Yang bikin gila, barang-barang itu nggak cuma sembunyi di lemari. Ada yang dilapisi kain, ada pula yang dibungkus lakban. Makanya polisi butuh waktu hampir 6 jam buat mendata semuanya. Dari total temuan, sekitar 30 pucuk di antaranya sudah dimodifikasi dengan peredam suara alias suppressor. Itu artinya, senpi ini dirancang buat operasi senyap.

Siapa pemiliknya? Ketua yayasan berinisial AS, pria 54 tahun, langsung jadi tersangka utama. Dia diketahui punya akses penuh ke ruangan tersebut. Pihak sekolah mengaku nggak tahu-menahu, tapi beberapa staf administrasi ngaku sering lihat kotak-kotak masuk pakai kurir. Tapi ya nggak ada yang berani nanya—soalnya AS dikenal keras dan jarang ada di tempat.

Orang tua murid langsung heboh. Bayangin aja, tempat lo nitipin anak tiap hari ternyata jadi gudang senjata ilegal. Beberapa komite sekolah bahkan udah minta pertemuan darurat dengan yayasan. Pihak sekolah sendiri masih tutup mulut, cuma ngeluarin pernyataan tertulis singkat yang bilang mereka “sangat terkejut dan akan kooperatif” dengan proses hukum.

Hukumannya berat banget, soalnya polisi menjerat AS dengan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951. Ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup. Tapi pertanyaan besarnya: apakah AS kerja sendiri? Polisi masih menyelidiki aliran dana dan kontak-kontak yang tercatat di ponsel AS. Peredaran senpi ilegal di Indonesia memang jadi momok, dan kasus ini bisa jadi celah buat membongkar jaringan yang lebih besar.

Sponsored Deal

Dari segi keamanan, temuan ini jelas bikin miris. Sekolah, yang seharusnya jadi zona aman, malah jadi lokasi penyimpanan alat maut. Ini bukan cuma soal pelanggaran aturan, tapi soal nyawa anak-anak yang hampir taruhannya. Untung polisi bergerak cepat sebelum ada yang pakai senpi tersebut buat hal kriminal.

Pertanyaan publik sekarang: baru AS doang yang bakal dihukum? Atau ada petinggi lain yang ternyata main di bisnis ini? Dan yang paling mengganggu, kenapa bisa selama ini nggak ketahuan? Padahal aktivitas masuk-keluar kotak styrofoam gede di lingkungan sekolah pasti ada yang lihat. Mungkin ada yang sengaja tutup mata, atau malah jadi bagian dari jaringan? Kita lihat aja ke mana arah penyelidikan selanjutnya. Tapi yang jelas, temuan ini udah nyatain satu hal: gak ada tempat yang benar-benar aman kalau yang jaga adalah orang yang salah.