Depok - Guru Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Prof. Fatma Lestari, memperingatkan bahwa saat ini tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia tengah menghadapi fenomena "silent crisis" atau krisis senyap. Lemahnya perlindungan kesehatan kerja membuat para nakes rentan mengalami kelelahan ekstrem (fatigue), depresi, hingga fatalitas.
"Tenaga kesehatan selama ini dipandang sebagai penyelamat kehidupan, namun sering kali terlupakan bahwa mereka juga merupakan pekerja yang memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi," kata Fatma Lestari dalam keterangannya di Depok, Rabu.
Dalam dua pekan terakhir, Indonesia dihadapkan pada berbagai kasus kematian dokter dan tenaga kesehatan yang menggambarkan masih lemahnya perlindungan kesehatan kerja di sektor kesehatan.
Prof. Fatma menyoroti maraknya rentetan kasus tragis dalam dunia medis belakangan ini, mulai dari dugaan perundungan dan tekanan psikososial pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), hingga meninggalnya beberapa dokter internship. Kondisi ini bahkan memicu perhatian serius hingga mendorong pembentukan tim investigasi oleh DPR RI.
Prof. Fatma menekankan bahwa nakes sering dianggap penyelamat tanpa memedulikan risiko K3 yang tinggi. Akar masalahnya bersifat struktural, seperti dokter sakit yang tetap harus berpraktik dan perawat yang kelelahan. Ia mendesak adanya regulasi ketat—seperti aturan industri penerbangan—yang melarang nakes tidak fit untuk bertugas, demi keselamatan diri sendiri dan pasien.
”Setiap kematian tenaga kesehatan yang berkaitan dengan pekerjaannya merupakan sentinel event yang harus menjadi pembelajaran sistem, bukan hanya dipandang sebagai tragedi individual,” tutur Prof Fatma.
Kasus meninggalnya PPDS Anestesi Universitas Diponegoro (Undip), dr Aulia Risma Lestari, menjadi pembuka persoalan besar mengenai workplace bullying, kekerasan psikologis, beban kerja yang tinggi, tekanan akademik, dan kesehatan mental.

Memuat komentar...