Jakarta โ Jumlah korban tewas akibat gelombang eksodus massal migran ilegal yang menerobos wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, dilaporkan terus meningkat secara signifikan. Hingga saat ini, sebanyak 77 orang tewas akibat insiden itu.
Dilansir AFP, Rabu (5/8/2026), pejabat setempat menyampaikan peningkatan jumlah korban dari sebelumnya sebanyak 75 orang.
Gelombang migrasi tidak terkendali ini bermula sejak akhir Juli, yang dipicu oleh beredarnya rumor di media sosial serta pelonggaran patroli keamanan di sisi perbatasan Maroko. Situasi dengan cepat berubah menjadi krisis besar ketika diperkirakan 60.000 hingga 70.000 migran mencoba merangsek masuk ke wilayah otonom Ceuta dalam kurun waktu yang sangat singkat
Lonjakan ekstrem arus pencari suaka ini bahkan sempat menyamai hampir 70 persen dari total populasi reguler kota tersebut. Sebagian besar korban tewas akibat tenggelam saat berenang mengitari dermaga Tarajal, sementara puluhan lainnya meninggal akibat berdesakan dan terinjak saat mencoba memanjat pagar pembatas breakwater.
Dampak dari kepanikan massal ini juga membuat lebih dari 1.100 orang harus mendapatkan perawatan medis darurat akibat hipotermia ekstrem, dehidrasi, dan luka fisik yang parah.
Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska Gomez, menuduh jaringan mafia perdagangan manusia mengeksploitasi kerentanan para migran demi meraup keuntungan finansial sepihak.
Menanggapi situasi yang makin genting, pemerintah Spanyol segera mengerahkan bantuan personel militer guna memulihkan ketertiban di sepanjang garis pantai.
Meskipun situasi darurat sempat mencekam, otoritas Spanyol menyatakan bahwa sekitar 50.000 hingga 70.000 migran telah dipulangkan atau memilih kembali secara sukarela ke Maroko karena ketiadaan tempat penampungan serta logistik makanan yang memadai di Ceuta.
Sebagai langkah pencegahan jangka pendek, pihak berwenang Spanyol kini telah memasang pembatas apung pneumatik sepanjang 500 meter di lepas pantai Tarajal.

Memuat komentar...