ANKARA, r3nmedia.com - Inggris dan Jerman resmi memimpin inisiatif pertahanan berskala besar untuk mengembangkan sistem rudal jelajah jarak jauh baru dengan jangkauan melebihi 2.000 kilometer. Proyek rahasia militer berkode Deep Precision Strike (DPS) ini dirancang khusus guna memperkuat sistem deteksi dini serta mengantisipasi potensi pecahnya konflik terbuka dengan Rusia di masa depan. Rencana ambisius tersebut dipresentasikan secara tertutup dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung di Ankara, Turki.

Berdasarkan laporan investigasi media Jerman Die Welt dan media Inggris The Telegraph, megaproyek sistem pertahanan udara Eropa ini diperkirakan menelan total biaya investasi yang fantastis, yakni mencapai 35 miliar euro (sekitar Rp 619 triliun). Formula kerja sama bilateral ini akan mengombinasikan kekuatan sokongan pendanaan masif dari pemerintah Jerman dengan keunggulan keahlian rekayasa teknologi presisi milik militer Inggris. Program ini juga didukung penuh oleh keikutsertaan 12 negara anggota aliansi NATO lainnya.

Hingga saat ini, rancangan cetak biru (blueprint) dari rudal pemukul jarak jauh tersebut masih diklasifikasikan sebagai dokumen rahasia negara. Kendati demikian, otoritas pertahanan kedua negara mengonfirmasi ada dua konsep mutakhir yang tengah dipertimbangkan secara serius oleh tim pengembang:

  1. Rudal Jelajah Ketinggian Rendah: Rudal terbang sangat rendah yang didesain khusus agar mampu menyelinap di bawah radar dan melumpuhkan sistem pertahanan udara berlapis milik Rusia.
  2. Rudal Hipersonik Berkecepatan Tinggi: Senjata supersonik masa depan yang mampu melesat cepat hingga lima kali lipat kecepatan suara (Mach 5) guna melancarkan serangan presisi kilat ke jantung pertahanan musuh.

Di luar aspek penguatan keamanan wilayah regional, pergerakan cepat London dan Berlin dalam proyek DPS ini dinilai sarat akan pesan geopolitik strategis. Koalisi erat ini disebut-sebut sebagai simbol perlawanan sekaligus langkah taktis negara-negara Eropa untuk menyapih diri dari ketergantungan pasokan payung hukum militer Amerika Serikat (AS). Terlebih, tensi politik antara blok Eropa dan Washington sempat menegang setelah administrasi pemerintahan Donald Trump di AS mengkritik keras porsi anggaran pertahanan negara-negara Eropa yang dinilai terlalu minim.

Hubungan mesra militer Inggris-Jerman ini didasari oleh penandatanganan kesepakatan historis Trinity House Agreement dan Kensington Agreement. Kerja sama langsung antar-keduanya berjalan jauh lebih efektif, berbeda dengan kegagalan proyek jet tempur masa depan FCAS (Future Combat Air System) antara Jerman-Prancis yang sebelumnya sempat hancur di tengah jalan akibat perselisihan birokrasi dan benturan ego kepentingan antarnegara.

Meski draf kerja sama politik ini diklaim berjalan sesuai jadwal, timeline penyelesaian proyek pertahanan udara ini rupanya tidak luput dari gelombang kritik tajam para pakar militer. Berdasarkan target resmi pemerintah, proyek sistem rudal jarak jauh DPS ini baru dijadwalkan siap beroperasi penuh pada tahun 2034 mendatang. Jangka waktu pengembangan selama delapan hingga sepuluh tahun ini dinilai terlalu lambat dan tidak realistis menghadapi dinamika ancaman perang yang kian eskalatif.

Mantan Panglima Komando Angkatan Darat AS di Eropa, Jenderal Ben Hodges, secara terbuka menyebut lini masa target 2034 tersebut sebagai rencana yang "aburd" dan ketinggalan zaman. Hodges menyoroti fakta di medan perang saat ini, di mana Ukraina bahkan sudah mampu memproduksi dan menerbangkan armada pesawat tanpa awak (drone) jarak jauh yang sanggup membawa hulu ledak besar melintasi jarak 2.000 kilometer secara instan. Para pengamat mendesak agar aliansi Eropa memajukan proses formal riset ke tahap manufaktur penuh sebelum tahun 2027 demi membentengi kawasan Baltik secepat mungkin.